Radar Sriwijaya Ogan Ilir – Harga jual komoditas singkong yang sering kali murah dan fluktuatif di tingkat petani menjadi latar belakang utama keresahan warga Desa Tanjung Seteko, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir.
Menjawab tantangan tersebut, tim dosen dan mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (UNSRI) hadir mendampingi masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dihelat pada Jumat, 4 September 2026.
Sebelumnya, rangkaian kegiatan telah berjalan secara bertahap sejak awal Agustus 2026, mulai dari tahap sosialisasi program bersama perangkat desa dan Ketua RT selaku mitra pengabdian, pelatihan teknis pengolahan, praktik langsung pembuatan perkedel singkong skala rumah tangga, hingga pelatihan manajemen usaha.
Program yang mengangkat potensi lokal ini diketuai oleh M. Huanza, S.P., M.Si. bersama sejumlah dosen anggota dan mahasiswa lintas angkatan dari Prodi Agribisnis Faperta UNSRI. Melalui kegiatan ini, warga diajak untuk mengubah kebiasaan menjual singkong mentah dengan harga rendah menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi, yakni perkedel singkong yang disajikan bersama sambal khas Ogan Ilir. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Prodi Magister Agribisnis S2 UNSRI, Dr. Ir. Lifianthi, M.Si., turut memberikan sambutan dan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Beliau menekankan pentingnya hilirisasi produk pertanian langsung dari tingkat perdesaan agar kesejahteraan petani dan keluarga semakin meningkat.

Ketua Pelaksana Pengabdian, M. Huanza, S.P., M.Si., mengungkapkan bahwa potensi singkong di Desa Tanjung Seteko sangat melimpah, namun sayangnya belum diimbangi dengan kegiatan hilirisasi pascapanen.
“Selama ini petani sering merugi atau mendapat keuntungan kecil karena singkong dijual begitu saja dalam bentuk mentah kepada tengkulak. Bersama tim dosen dan mahasiswa Agribisnis Faperta UNSRI, kami mendampingi warga untuk memutarbalikkan keadaan tersebut. Jika singkong diolah secara kreatif menjadi perkedel berbalut sambal khas Ogan Ilir, dikemas secara higienis, dan dipasarkan dengan tepat, keuntungan yang didapat bisa meningkat berkali-kali lipat dibanding menjualnya mentah,” ujar M. Huanza.
Pelaksanaan program ini melibatkan kolaborasi erat dari berbagai bidang keahlian di bawah Fakultas Pertanian UNSRI. Jajaran dosen anggota yang turut terjun langsung mendampingi masyarakat meliputi Dr. Riswani, S.P., M.Si. yang membekali warga terkait manajemen usaha dan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP); Dini Damayanthy, S.P., M.Sc. dan Jerry Antonio, S.TP., M.P. yang memandu teknik pengolahan pangan serta standar higienitas; Dian Amalina, S.P., M.Si.dan Siti Ramadani Andelia, S.P., MsI. yang mengkoordinasikan penguatan kelembagaan kelompok; serta Trisna Wahyu Swasdiningrum Putri, S.P., M.Sc. yang fokus mendampingi strategi branding dan pemasaran dan Etika Fuji Lestari, S.P., M.Si yang mendampingi ibu-ibu membuat perkedel.

Selain para dosen, keterlibatan mahasiswa Prodi Agribisnis Faperta UNSRI—di antaranya Ariel Rizki Aprianto, Nafisyah Okta Viani, Tara Nasyakila, Lasri Zahra Nabila, Citra Sukma Dewi, dan Aisyah Alfatih Qudwatina—turut menghidupkan suasana pendampingan di tengah warga. Para mahasiswa aktif membantu jalannya pelatihan, mendampingi praktik pembuatan produk, hingga mempraktikkan langsung cara mendokumentasikan dan mempromosikan produk melalui platform digital.
Antusiasme yang tinggi turut dirasakan langsung oleh para warga dan mitra di lapangan. Ketua Kelompok Lestari, Ibu Lasri, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya atas kehadiran tim dosen dan mahasiswa UNSRI yang telah membimbing warga desa secara telaten.
“Kami mewakili warga sangat senang dan terbantu dengan adanya pelatihan ini. Selama ini kami pasrah saja menjual singkong murah karena tidak tahu mau diolah jadi apa lagi. Berkat bimbingan Pak Huanza, ibu-ibu dosen, serta adik-adik mahasiswa Agribisnis UNSRI, sekarang mata kami terbuka bahwa singkong bisa disulap jadi perkedel lezat bernilai jual tinggi. Kami diajari cara hitung untungnya, cara mengemasnya supaya cantik, sampai diajari cara pasarkan lewat handphone,” tutur Ibu Lasri.
Rangkaian kegiatan hari ini berfokus pada cara mempercantik tampilan produk menggunakan kemasan plastik food grade berukuran ±100–250 gram yang dilengkapi label identitas usaha. Selain itu, warga juga mendapatkan pelatihan pemanfaatan media digital seperti WhatsApp Business, Instagram, dan Facebook agar jangkauan pasar produk tidak hanya terbatas di tingkat lokal desa saja.
Melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, mahasiswa, and masyarakat ini, diharapkan warga Desa Tanjung Seteko ke depannya semakin mandiri, memiliki keterampilan kewirausahaan yang matang, serta sukses menjadikan perkedel singkong sambal khas Ogan Ilir sebagai produk unggulan desa yang mendatangkan keuntungan berlipat ganda.(*)











