Foto: Dok UNSRI
Radar Sriwijaya, (OKI) – Komitmen kerja sama antara Universitas Sriwijaya (UNSRI) dan Yonsei University, Republik Korea, terus diperkuat melalui berbagai kegiatan kolaboratif di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu implementasi nyata kerja sama tersebut diwujudkan melalui kunjungan Prof. Dr. Sangbum Shin beserta dua mahasiswa aktif Yonsei University, Cindy dan Yujung, ke Desa Perigi, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program World Class University (WCU)-EQUITY Universitas Sriwijaya yang didanai oleh LPDP sebagai upaya memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi melalui kolaborasi akademik dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan difokuskan pada pengembangan Living Lab Agrosilvofishery yang dikembangkan Universitas Sriwijaya melalui Center of Excellence for Peatland and Mangrove Conservation and Productivity Improvement (CoE PLACE). Living Lab merupakan pendekatan kolaboratif yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran, dengan masyarakat sebagai mitra utama dalam merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi inovasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lokal.
Dalam pelaksanaannya, Prof. Dr. Sangbum Shin didampingi oleh Dr. Dessy Adriani, S.P., M.Si., dosen Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, selaku Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program EQUITY–Living Lab Agrosilvofishery. Tim pengabdian juga terdiri atas Prof. Dr. Ir. Rujito Agus Suwignyo, M.Agr., Dr. Ir. Erizal Sodikin, Dr. Serly Novita Sari, S.P., M.Si., Siti Ramadani Andelia, S.P., M.Si., Muhammad Andri Zuliansyah, S.P., M.Si., Dr. Fitra Gustiar, S.P., M.Si., serta Muhardianto Cahya, S.P., M.Si. Bersama masyarakat Desa Perigi, tim melaksanakan observasi lapangan, diskusi partisipatif, identifikasi potensi dan tantangan pengelolaan lahan gambut, serta mengevaluasi perkembangan implementasi Living Lab Agrosilvofishery sebagai model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Desa Perigi dipilih sebagai lokasi Living Lab karena memiliki potensi besar dalam pengembangan sistem agrosilvofishery, yaitu integrasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam satu sistem usaha yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian ekosistem lahan gambut. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses inovasi sehingga solusi yang dihasilkan lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Menurut Dr. Dessy Adriani, kegiatan pengabdian ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola lahan gambut secara berkelanjutan, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dan mitra internasional.
“Living Lab merupakan pendekatan kolaboratif yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam proses inovasi. Melalui kerja sama dengan Yonsei University, kami berharap model ini mampu memperkuat kapasitas petani dalam mengelola lahan gambut secara berkelanjutan sekaligus menjadi media pembelajaran bagi dosen dan mahasiswa dalam menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Dr. Dessy Adriani.
Selama kegiatan berlangsung, Cindy dan Yujung tidak hanya mendampingi Prof. Sangbum Shin sebagai peserta kunjungan akademik, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian pengabdian kepada masyarakat. Keduanya mengikuti observasi lapangan, berdialog langsung dengan petani mengenai praktik pengelolaan lahan gambut, mempelajari penerapan sistem agrosilvofishery, serta terlibat dalam diskusi mengenai berbagai tantangan dan peluang pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal. Melalui keterlibatan tersebut, kedua mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai pembelajaran berbasis masyarakat (community-based learning) sekaligus memahami bagaimana kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dapat menghasilkan inovasi yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari program mobilitas akademik internasional, Cindy dan Yujung juga mengikuti kegiatan diskusi bersama mahasiswa Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEPERTA) dan Himpunan Mahasiswa Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Diskusi berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif dengan mengangkat berbagai topik mengenai kehidupan kampus di Indonesia dan Korea Selatan, sistem pembelajaran, budaya akademik, aktivitas organisasi kemahasiswaan, hingga pengalaman mengikuti kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa Universitas Sriwijaya turut memperkenalkan berbagai program akademik, organisasi kemahasiswaan, serta aktivitas pengabdian yang menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Interaksi tersebut menjadi ruang pertukaran wawasan dan budaya yang memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dari kedua institusi. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa Universitas Sriwijaya memperoleh gambaran mengenai sistem pendidikan tinggi dan budaya akademik di Yonsei University, sementara Cindy dan Yujung mendapatkan pengalaman langsung mengenai kehidupan kampus di Indonesia serta keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini sekaligus memperkuat jejaring internasional dan membuka peluang kolaborasi akademik di masa mendatang.


Prof. Dr. Sangbum Shin menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan yang dikembangkan Universitas Sriwijaya dalam mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat melalui Living Lab. Menurutnya, model yang diterapkan di Desa Perigi memiliki potensi besar sebagai contoh praktik baik (best practice) dalam pengembangan masyarakat berbasis partisipasi yang dapat diterapkan di berbagai wilayah dengan karakteristik lahan gambut yang serupa.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Universitas Sriwijaya dan Yonsei University semakin memperkuat komitmennya dalam membangun kolaborasi internasional yang tidak hanya berorientasi pada penelitian, tetapi juga pada pengembangan kapasitas masyarakat, pengalaman belajar mahasiswa, serta internasionalisasi pendidikan tinggi. Sinergi antara akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Perigi.











