Foto : Pengelolaan lahan Gambut, di desa Perigi
Radar Sriwijaya, (OKI) – Universitas Sriwijaya (UNSRI) terus mendorong pengelolaan lahan gambut berkelanjutan melalui program Living Labs Agrosilvofishery di Desa Perigi, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), sebagai bagian dari proyek Sriwijaya Social Development Initiative (SSDI). Program ini bertujuan untuk mengintegrasikan pertanian, perikanan, dan kehutanan dalam satu sistem yang mendukung keberlanjutan pengelolaan lahan gambut.
Living Lab yang diterapkan di Desa Perigi menjadi ruang eksperimen nyata untuk inovasi, di mana petani, mahasiswa, dan akademisi berkolaborasi untuk menemukan solusi berbasis ilmiah yang aplikatif di lapangan.
Program ini dipimpin oleh Dr. Dessy Adriani, S.P., M.Si., yang didampingi oleh tim ahli UNSRI, yaitu Prof. Rujito Agus Suwignyo, Dr. Erizal Sodikin, Dr. Serly Novita Sari, S.P., M.Si., Siti Ramadani Andelia, S.P., M.Si., Muhammad Andri Zuliansyah, S.P., M.Si., Dr. Fitra Gustira, S.P., M.Si., dan Muhardianto Cahya, S.P., M.Si..
Program ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang berada di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dan dikelola melalui Program EQUITY. Pada tanggal 3 Februari 2026, Prof. Sangbum Shin dari Yonsei University bersama rombongan UNSRI dan beberapa mahasiswa mengunjungi Desa Perigi untuk melihat langsung perkembangan program Agrosilvofishery yang telah dilaksanakan dan mengenalkan living labs pada petani binaan Unsri di Desa Perigi.
Kedatangan mereka disambut antusias oleh warga setempat yang terlibat dalam kegiatan ini. Selama kunjungan, Prof. Shin mengamati proses implementasi agrosilvofishery dan berinteraksi dengan petani serta kelompok tani, mendiskusikan tantangan dan pencapaian yang telah diraih sejauh ini.
“Kami sangat senang melihat semangat warga Desa Perigi dalam menjalankan program ini. Kolaborasi ini telah menciptakan dampak positif yang jelas bagi kehidupan mereka, dan saya optimis program ini akan terus berkembang,” ungkap Prof. Shin.
Pendekatan Living Lab memungkinkan terjadinya proses co-creation, co-learning, dan co-evaluation, di mana masyarakat lokal bukan hanya menjadi objek intervensi, tetapi juga berperan aktif dalam inovasi, perencanaan, dan evaluasi program.
Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, UNSRI berkomitmen untuk memberdayakan petani lokal dalam mengelola lahan gambut secara berkelanjutan. Kolaborasi internasional dengan Yonsei University dan dukungan dari IPAID (Institute for Poverty Alleviation & International Development) memperkuat pendekatan berbasis riset untuk menciptakan solusi yang lebih efektif dalam pengelolaan lahan gambut.
Selain itu, program ini juga mengembangkan kapasitas petani melalui pelatihan dan pendampingan langsung di lapangan, yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial mereka, serta meningkatkan kapasitas mereka untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.
Agrosilvofishery yang dilaksanakan selama ini telah menambah kegiatan komerisal pertanian di Desa Perigi. Dr. Mohamad Amin, S.Pi., M.Si., yang mewakili sektor perikanan dalam program ini, menjelaskan bahwa tim telah menebar 13.500 ikan lele pada awal tahun dan berfokus pada perbaikan manajemen pakan serta kualitas air untuk memastikan hasil yang optimal dalam tiga bulan ke depan.
Prof. Dr. Ir. M. Umar Harun, MS, yang terlibat dalam pengelolaan lahan gambut, mengungkapkan keberhasilan besar dalam sektor pertanian, dimana masyarakat kini dapat memanen jagung pipil yang meningkatkan pendapatan mereka, menunjukkan bahwa agrosilvofishery dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan sambil menjaga keberlanjutan lahan gambut.Nazaruddin, S.P., M.Si.,
Koordinator Penyuluh di BPP Pangkalan Lampam, menekankan pentingnya program ini dalam mendukung kebijakan ketahanan pangan nasional.
“Program ini sangat mendukung kebijakan ketahanan pangan yang digagas oleh pemerintah. Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui sinergi antara UNSRI, Yonsei University, IPAID, pemerintah daerah, serta penyuluh pertanian, program Living Labs Agrosilvofishery di Desa Perigi diharapkan tidak hanya dapat menciptakan model pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Program ini juga memiliki potensi untuk diterapkan di daerah lain di Indonesia, serta menjadi model yang dapat diadopsi oleh negara-negara lain dengan tantangan serupa dalam pengelolaan lahan gambut dan pemberdayaan masyarakat.(*)






