oleh

URGENSI SIKAP RAMAH TAMAH DI ERA ZAMAN MENUNDUK

-Artikel-370 views

Oleh :

Sudarsih Dwi Ningrum
Mahasiswa Stainu Temanggung

Radar Sriwijaya,- Sikap ramah tamah sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari karena sikap ramah tamah merupakan perilaku atau sifat masyarakat yang akrab dengan pergaulan seperti suka senyum, menyapa, sopan serta hormat dalam berkomunikasi, suka membantu tanpa pamrih dan lain sebagainya. Seseorang yang memiliki sikap ramah tamah menunjukan ia mengakui dan menghargai keberadaan serta harkat dan martabat orang lain. Namun pada kenyataanya di era globalisasi, modernisasi, dan teknologi seperti saat ini, rasanya nyaris tidak mungkin anak muda seperti zaman now ini bisa melepas gawai atau telepon pintar.

Saat ini budaya dan karakter ramah-tamah menjadi terkikis oleh budaya individualistis, masyarakat telah kehilangan sifat ramah tamah dengan indikasi lebih suka hidup individual, cuek, kurang sopan dalam berkomunikasi, menurunnya semangat gotong-royong dan suka membantu, dan kurang suka senyum maupun menyapa orang lain. Fenomena itu terjadi dengan pesat karena pengaruh gawai. Orang lebih suka memainkan gawainya di kerumunan banyak orang ketimbang menyapa atau berbincang dengan orang yang ada disebelahnya dengan alasan mereka tak saling mengenal.

Pentingnya sikap ramah tamah yaitu untuk menghargai satu sama lain dengan tujuan agar tidak pudar-nya budaya dan karakter ramah tamah agar selalu tertanam pada diri manusia. sikap menghargai, sikap ramah tamah patut dikembangkan melalui pembentukan karakter pada anak agar tidak terjadi kisis moral. Jika mengalami krisis moral apa yang akan terjadi pada bangsa kita ini ?, padahal generasi milenial saat ini sangat banyak yang kehilangan jati dirinya karena lebih mengedepankan kehidupan zaman now yang berbasis teknologi.

Memang benar saat ini kecanggihan teknologi sudah tidak diragukan lagi namun, sangat amat disayangkan jika kita kehilangan diri kita sebagai manusia sejati. bagaimana tidak waktu kita hanya dihabiskan untuk menunduk di depan gawai seakan-akan gawai adalah sahabat sejati bagi kita. Menurut saya teknologi sudah menjadi racun hingga dapat membius umat manusia di dunia ini. bagaiamana tidak membius? generasi milenial saat ini sudah di identifikasikan dengan sebuah istilah ‘generasi menunduk’ bukan menunduk karena lewat di depan orang tua atau karena sedih, namun kerena menatap gawai.

Padahal sebelumnya Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah sehingga orang-orang Indonesia dikenal sebagai orang yang sangat mencintai keluarganya dan jauh dari kesan individual. saat ini Indonesia di frame oleh teknologi maupun media asing dalam deret Panjang citra negatif, kita seakan tak mampu berbicara. Maraknya gawai yang menghipnotis jutaan bahkan milyaran penduduk dunia menjadikan perubahan kehidupan yang signifikan terutama pada masyarakat Indonesia yang berubah karena kecanduan teknologi.

Ramah-tamah adalah hal yang sangat dianjurkan dalam ajaran islam. Rasullullah SAW bersabda,”orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia”(HR Thabrani dan Daruquthni, dari jabir RA). Hadis tersebut mengingatkan jati diri kemanusiaan kita agar selalu bersikap ramah tamah dalam berinteraksi sosial di antara sesama. Suatu sikap yang dalam satu bulan terakhir ini menjadi pertanyaan kita semua, khususnya menyangkut sikap kita sebagai manusia untuk menghargai hak-hak kemanusiaan sesama.

Tapi pada kenyataan yang sedang terjadi sikap ramah tamah mulai luntur karena kebiasan-kebiasan baru di zaman now yang sering mengandalkan gawai yang menjadi candu bagi pemakai gawai. Fasilitas pada gawai tidak hanya terbatas pada fungsi telepon dan short messages service (SMS) saja. Saat ini, gawai dapat digunakan sebagai sarana bisnis, penyimpanan berbagai macam data, sarana music atau hiburan, bahkan sebagai alat dokumentasi.

Disadari atau tidak, sekarang ini manusia di Indonesia sangat bergantung pada gawai. Apalagi saat ini  berbagai merek gawai  menawarkan berbagai keunggulan dan aplikasi yang mampu menyihir kita. Asyik dengan dunia kecilnya yaitu benda mati bersama gawai. Belum lagi kebiasaan masyarakat Indonesia yang memiliki gawai lebih dari satu dan terbaru,wajib dibawa dimanapun,yang sepertinya sudah terjangkit “nomophobia” (no mobile phone phobia) yaitu ketakutan pengguna gawai akan kehilangan atau terpisah darinya.

Teringat kata peribahasa, “padi menunduk semakin berisi “ yang berarti semakin berilmu semakin rendah hati. Peribahasa tersebut tentunya tidak mencerminkan ketika fenomena berjalan menunduk di Indonesia yang menandakan ramah tamah telah digantikan dengan gawai yang tergenggam erat di tangan.

Dapat dengan mudah kita amati kegiatan menunduk dengan gawai di tangan telah menjadi trend masa kini, seakan tak mau ketinggalan informasi di era baru berkomunikasi, tetapi kita sendiri melupakan hakikat budaya timur yang menjunjung tinggi intteraksi sosial secara langsung.

Semoga generasi milenial tidak lupa akan hakikatnya menjadi manusia sejati dan memanusiakan manusia.harapan penulis kepada generasi milenial adalah bentuklah sikap ramah tamah dan tamankan kepada diri sendiri dan lingkungan sekitar agar kita tidak terjerumus dalam hal negatif. Generasi milenial juga harus sadar atas kemajuan teknologi agar tidak kecanduan teknologi karena kemajuan sebuah bangsa adalah tergantung kualitas generasi penerus bangsa jika generasi bangsa kita terbedaya oleh gawai maupun teknologi lainnya maka dikhawatirkan tingkat kepedulian menurun.(*)

Artikel ini dikirim penulis via email redaksi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed