Layak Miliki Pelabuhan Internasional

KAYUAGUNG – Mengenang masa keemasan Kerajaan Sriwijaya, khususnya bandar utama di Teluk Cengal, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (Pemkab OKI) mengusulkan rencana pembangunan pelabuhan internasional Tanjung Tapa, Air Sugihan. Hal itu direspons positif oleh arkeolog sekaligus peneliti Nurhadi Rangkuti.

Nurhadi Rangkuti

Dikonfirmasi, Senin (11/9) Rangkuti sangat mendukung rencana tersebut, terpenting pelestarian situs cagar budaya peninggalan Kerajaan Sriwijaya. “Silakan saja (Pemkab OKI bangun pelabuhan internasional) di sekitar sana (Tanjung Tapa) asal jangan di kawasan situs (Teluk Cengal),” ungkapnya.

Apalagi, tambah Rangkuti, pada 2012 lalu ada temuan perahu purbakala di Desa Pasir, Air Sugihan. ” Sejarah membuktikan bahwa ribuan kapal sudah berlayar sejak masa (Sriwijaya) itu di Selat Malaka dan pesisir Sumatera,” tegasnya.

Rangkuti menambahkan, dirinya sudah dua kali meneliti bandar (pelabuhan) di Teluk Cengal sejak 2012 lalu. “Saya kan cuma peneliti. Tinggal (hasil penelitiannya) dikembangkan dan terus dibuktikan, dilindungi, dan lestarikan.  Apalagi banyak penemuan benda-benda seperti emas, tembikar, dan prasasti kecil (bertuliskan ‘balatentara dan raja Java’) di lokasi tersebut,” terangnya.

Dikatakannya, saat terjadi kebakaran lahan gambut pada 2015, dirinya kembali turun ke lokasi untuk menguatkan penelitiannya. Alhasil, Rangkuti meyakini bahwa bandar utama Kerajaan Sriwijaya berlokasi di Cengal. “Lokasinya (bandar utama Sriwijaya) memang di sana (Cengal). Terkait adanya penemuan di beberapa aliran sungai seperti Sungai Kedondong, Sungai Lengkiti, Sungai Ketupak kan bermuara ke Sungai Lumpur,” tegasnya.

Pria yang terakhir menjabat Kepala Balai Arkeologi Sumsel pada September 2016 ini mengaku siap apabila diajak bekerja sama dalam melestarikan cagar budaya peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Teluk Cengal. “Sekarang saya di Yogya. Kapan pun diundang Balai Arkeologi Sumsel atau pemda setempat (Pemkab OKI) saya bersedia,” harapnya.

Diketahui, Teluk Cengal OKI sebagai lokasi bandar Kerajaan Sriwijaya telah diteliti oleh Nurhadi Rangkuti, arkeolog asal Yogyakarta. Hasil penelitiannya pertama kali dipublikasikan saat Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) XIV, 24-27 Juli 2017 di Bogor, Jawa Barat. Karya ilmiah tersebut juga dicantumkan di laman portal Dirjen Kebudayaan Kemdikbud pada 9 Agustus 2017.

Menurut Rangkuti, pesisir tenggara Sumatera (Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan) kaya dengan bukti-bukti arkeologis masa Sriwijaya di Sumatera (7–13 M). Diuraikannya, hal yang menarik di lahan basah pesisir Teluk Cengal terdapat situs-situs arkeologi proto Sriwijaya atau dikenal dengan istilah situs pra Sriwijaya.

Salah satu lokasi situs yang penting untuk dikaji lebih lanjut adalah situs-situs yang terdapat di Desa Ulak Kedondong dan sekitarnya di daerah aliran Sungai Lumpur di Kecamatan Cengal. Kawasan Teluk Cengal memiliki potensi yang besar sebagai lokasi pelabuhan antara, ditinjau dari posisi kawasan itu yang berada di persimpangan jalur maritim antara Selat Bangka, Laut Jawa dan Selat Sunda.

Berperan sebagai entreport atau pelabuhan utama di Asia Tenggara, dengan mendapatkan restu, persetujuan, dan perlindungan dari Kaisar Cina untuk dapat berdagang bebas, Kerajaan Sriwijaya senantiasa mengelola jejaring perdagangan bahari itu hingga menguasai urat nadi pelayaran antara Cina dan India.

Di Teluk Cengal dan Air Sugihan ditemukan kawasan permukiman kuno yang luas dan padat di daerah aliran Sungai Lumpur sampai ke aliran Sungai Jeruju. Kawasan permukiman itu diperkirakan berkembang sejak abad ke-8 sampai abad ke-10, periode dimana Kerajaan Sriwijaya menjadi penguasa atau maharaja maritim(thalassocracy) di Asia Tenggara.

Rangkuti melakukan penelitian arkeologi tersebut di pantai tenggara Sumatera di Provinsi Sumatera Selatan telah dilakukan di Air Sugihan dan Karangagung Tengah oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Selatan (Balar Sumsel) sejak 1980 awal sampai sekarang. Hasil penelitian memberikan gambaran mengenai permukiman kuno sejak awal Masehi sampai berkembangnya Sriwijaya di Sumatera abad ke-7 hingga 13 Masehi di Air Sugihan.(Rel)

 ​

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *