Foto : UNSRI dan Yonsei University Kembangkan Living Lab Agrosilvofishery. Dok: UNSRI
Radar Sriwijaya, (OKI) – Program Enhancing Quality of Education for Internationalization (EQUITY) melalui kegiatan Living Lab Agrosilvofishery Universitas Sriwijaya terus menunjukkan perkembangan positif dalam upaya pemberdayaan masyarakat lahan gambut. Salah satu capaian penting dari kegiatan yang dilaksanakan di Desa Perigi, Kabupaten Ogan Komering Ilir, adalah keberhasilannya menjangkau dan melibatkan petani baru dalam pengelolaan lahan berbasis agrosilvofishery.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Universitas Sriwijaya dan Yonsei University, Korea Selatan, ini tidak hanya berfokus pada pendampingan kelompok petani yang telah terlibat sebelumnya, tetapi juga berhasil menarik minat masyarakat lain untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan sistem usaha tani terpadu yang mengombinasikan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Kegiatan pengabdian ini juga melibatkan dua mahasiswa Yonsei University yang berpartisipasi secara langsung dalam proses pendampingan masyarakat, observasi lapangan, diskusi bersama petani, serta pertukaran pengetahuan dengan tim Universitas Sriwijaya. Keterlibatan mahasiswa internasional tersebut menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) sekaligus memperkuat kolaborasi akademik antara kedua universitas.
Melalui pendekatan Living Lab, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam berbagai kegiatan mulai dari diskusi kelompok, identifikasi permasalahan, pembelajaran lapangan, hingga demonstrasi penerapan teknologi dan inovasi sederhana pada lahan gambut. Pendekatan partisipatif ini mendorong tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap program yang dijalankan.
Ketertarikan petani baru muncul setelah mereka melihat secara langsung manfaat yang dirasakan oleh petani yang telah mengikuti program sebelumnya. Berbagai inovasi yang diterapkan mampu menghadirkan peluang usaha baru melalui budidaya jagung, buah-buahan, tanaman kehutanan, serta perikanan yang sebelumnya belum banyak dikembangkan di wilayah tersebut.
Selain meningkatkan produktivitas lahan, program ini juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan tata air dan pencegahan kebakaran lahan gambut. Dengan lahan yang lebih terkelola, risiko kebakaran dapat ditekan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan rumah tangga petani.
Ketua kegiatan, Dr. Dessy Adriani, S.P., M.Si., dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, menjelaskan bahwa pengembangan Living Lab tidak hanya berfokus pada implementasi kegiatan di lapangan, tetapi juga pada penyusunan strategi keberlanjutan program. Bersama dosen-dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, tim pelaksana mengadakan diskusi mengenai potensi pengembangan Living Lab Desa Perigi, mengevaluasi capaian yang telah diperoleh, serta merumuskan rencana pengembangan ke depan. Diskusi tersebut membahas peluang penguatan kelembagaan petani, diversifikasi usaha berbasis agrosilvofishery, perluasan partisipasi masyarakat, serta pengembangan Desa Perigi sebagai model pembelajaran (living laboratory) yang dapat menjadi rujukan bagi pengelolaan lahan gambut berkelanjutan di Indonesia.
Ke depan, program Living Lab Agrosilvofishery diharapkan dapat terus memperluas jangkauan penerima manfaat, memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola lahan gambut secara berkelanjutan, serta menjadi model pengembangan kawasan yang dapat direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik serupa di Indonesia. Dengan semakin banyaknya petani yang terlibat, upaya mewujudkan sistem pertanian yang produktif, adaptif, dan ramah lingkungan di lahan gambut akan semakin kuat melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan mitra internasional.

Paparan Prof. Sangbum Shin, dari Yonsei University Korea Selatan
Dalam forum tersebut, para dosen membahas berbagai aspek pengembangan Living Lab, mulai dari penguatan kelembagaan petani, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan model bisnis berbasis agrosilvofishery, diversifikasi komoditas, hingga strategi peningkatan akses pasar bagi produk masyarakat. Selain itu, diskusi juga menyoroti pentingnya integrasi antara kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai ciri utama Living Lab, sehingga inovasi yang dihasilkan tidak hanya bersifat akademis tetapi juga dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat.
Para peserta diskusi juga menekankan pentingnya memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta, dan mitra internasional,guna mendukung keberlanjutan program. Pengembangan Living Lab ke depan diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas lahan gambut melalui sistem agrosilvofishery, tetapi juga mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, meningkatkan kapasitas kelembagaan petani, serta menjadikan Desa Perigi sebagai pusat pembelajaran (living laboratory) bagi mahasiswa, peneliti, praktisi, dan masyarakat yang ingin mempelajari pengelolaan lahan gambut berkelanjutan.
Menurut Dr. Dessy Adriani, hasil diskusi ini akan menjadi dasar dalam penyusunan rencana pengembangan Living Lab tahap berikutnya. Melalui sinergi antara dosen, peneliti, mahasiswa, masyarakat, dan mitra internasional seperti Yonsei University, diharapkan Living Lab Agrosilvofishery Desa Perigi dapat terus berkembang sebagai model inovasi pemberdayaan masyarakat yang adaptif, berkelanjutan, dan dapat direplikasi di berbagai kawasan lahan gambut di Indonesia.






